Jumat, 17 April 2009


Assalamu'alaikum Wr Wb,


Sahabat Pembaca Setia Klinik Hati


Ibu Hj. Ummu Salamah telah menerbitkan satu buku dengan judul, Imunisasi Dampak Konspirasi dan Solusi Sehat ala Rasulullah SAW.


Buku ini disusun dalam rangka membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya informasi mengenai dampak imunisasi serta konspirasi apa saja yang terjadi.


Buku ini sangat penting bagi anda, terutama bagi yang mau menikah, bagi yang mau punya anak, bagi yang mau berangkat haji, dan semua orang wajib mengetahui apa saja pengaruh imunisasi bagi tubuh manusia, yang jelas banyak ruginya daripada untungnya.


Mari kita mulai dari diri kita, keluarga kita, orang-orang yang kita cintai disekeliling kita agar anak kita tidak mudah untuk di imunisasi begitu saja.


sumber :

Ibu Hj. Ummu Salamah, SH., Hajjam









Minggu, 12 April 2009

Belajar Kepada Anak
Mungkin Anda teringat, apa cita-cita Anda waktu masih kecil? Pada kebanyakan anak kecil termasuk saya, mempunyai cita- cita selalui diawali dengan "menjadi". Sebagai contoh cita- cita saya waktu masih kecil ialah "Saya ingin jadi INSINYUR". Coba ingat-ingat (kalau sudah lupa) cita-cita sewaktu masih kecil, ingin menjadi apa? Coba sekarang kita gali, apa yang menjadi alasan anak kecil mempunyai cita-cita. Jika saya dulu terinspirasi oleh boss ayah saya waktu itu yang seorang insinyur. Seorang insinyur yang mempunyai perusahaan sendiri dan tentu saja kaya. Ayah saya sering cerita tentang boss beliau kepada saya dan sodara saya. Disanalah saya mulai tertarik untuk menjadi insinyur.

Kebanyakan yang saya lihat alasan anak-anak memilih cita- cita karena sebuah "visi" pada diri mereka bahwa jika menjadi seseorang maka hidupnya akan enak, banyak uang, terkenal, dan dikagumi. Bahkan secara mengejutkan ada yang bercita-cita karena sudah mempunyai misi untuk membantu sesama. Contohnya ingin menjadi dokter karena ingin menolong orang yang sakit, ingin menjadi pemadam kebarakan supaya bisa menolong orang lain.

Banyak cita-cita yang sangat mulia yang keluar dari mulut dari seorang anak kecil. Suatu hal yang baik yang dilakukan oleh anak kecil mereka berani menyatakan visi dan misi mereka kepada orang lain. Keberanian ini sering hilang saat kita sudah dewasa. Banyak orang yang tidak lagi mempunyai keberanian untuk mengungkap visi dan misi setelah dewasa. Berbagai alasan muncul setelah dewasa. Salah satu alasan terbanyak menurut obsevasi saya ialah takut kecewa, apa bila visi dan misinya tidak tercapai.

Suatu paradigma yang salah, jika kita kecewa terhadap suatu kegagalan. Banyak pahlawan yang sebenarnya gagal dalam berjuang, tetapi mereka tetap dikenang, bukan karena hasil perjuangannya, tetapi karena usahanya dalam memperjuangkan bangsa ini. Jika Anda mempunyai misi mulia, jangan takut untuk gagal, bukan hasil yang akan dinilai, tetapi usaha Anda untuk mencapainya.

Belajarlah kepada anak kecil untuk tetap ceria dan semangat berkat cita-citanya. Kita sebagai orang dewasa tentu akan berbeda cara pandang terhadap kenyataan karena wawasan dan pengalaman kita yang berbeda. Salah satunya paradigma anak kecil yang perlu kita perbaiki ialah, tidak selamanya sukses itu jika berhasil "menjadi apa", sukses bisa berarti mendapatkan apa" atau sukses adalah "sudah memberikan apa". Kita juga bisa meneruskan cita-cita kita semasa kecil. Jika Anda ingin menjadi dokter karena ingin menolong orang, mungkin saat ini Anda bukan seorang dokter, tetapi misi dibalik cita-cita itu masih bisa diteruskan.

Menolong orang bukan hanya monopoli dokter, apapun peran dan tanggung jawab Anda saat ini, masih mempunyai peluang besar untuk menolong orang. Selama Allah belum memanggil kita.

Kita Membutuhkan Orang Lain

Kita bisa menjadi manusia unggul. Namun kita akan unggul hanya dalam satu atau beberapa aspek saja, tidak mungkin kita unggul disegala bidang. Semakin tinggi gelar akademik, ilmu yang dimilikinya akan semakin dalam, lebih terspesialisasi, bukan semakin luas. Dia mungkin memiliki wawasan yang luas, tetapi yang diketahui secara mendalam hanya pada satu atau beberapa bidang saja. Kedalaman ilmu kita akan terpusat pada keunikan kita, atau ekspresi kejeniusan unik kita, tidak akan pada semua aspek atau bidang ilmu.


Oleh karena itu, sudah merupakan hal yang wajar bagi kita memerlukan bantuan orang lain. Tidak mungkin kita akan bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Kita tidak mungkin memenuhi kebutuhan kita mulai dari fisiologis sampai psikologis oleh usaha kita sendiri. Untuk meraih keunggulan lebih tinggi kita memerlukan bantuan orang lain. Dalam dunia bisnis kita sering mendengar apa yang disebut dengan networking. Untuk saat ini networking begitu penting untuk keberhasilan kita, apapun profesi kita baik seorang karyawan, pengusaha, maupun seorang profesional, networking sangat diperlukan.


Mungkin ini salah satu hikmah dari hadits Rasulullah SAW bahwa dengan silaturahmi akan memperluas rezeki. Anas ra. berkata, Sesungguhnya Rasulullah SAW. bersabda, "Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia bersilaturahmi." (HR Bukhari dan Muslim)


Selain itu, kekuatan kita sebagai umat Islam akan lebih bertambah jika kita terus menjalin ukhuwah dengan cara meningkatkan silaturahmi kita terus menerus. Hanya dengan persatuanlah kita akan kuat. Shalahudin Al Ayubi pernah mengatakan bahwa orang-orang yang membela kemungkaran bisa saja bersatu, kenapa kita umat Islam tidak mau bersatu? Padahal silaturahmi begitu ditekan dengan kuat dalam ajaran agama kita.

Sabtu, 11 April 2009

Jejak Foto di Kawasan Curug Sangereng




Ini Foto-foto di sekitar Kawasan Kelurahan Curug Sangereng, sudah banyak perubahan semenjak kehadiran PT. Sumarecon Agung dan PT. Paramount Serpong di Gading Serpong.



ini foto makam yang masih dipertahankan warga kampung Cicayur Bubulak disekitar SDN Cihuni II. Kelapa Dua.






ini Jalan Desa Curug Sangereng, yang sedikit lagi tinggal kenangan karena mau di pindah oleh PT Sumarecon dan PT Paramount Serpong.




Kawasan Pengembangan Gading Serpong.
sedang dibangun Universitas Multimedia Nusantara disamping SDN Cihuni II Kelapa Dua.sekarang tinggal kenangan.




Ini Foto Sekolah saya ketika masih kecil disana.
SDN Cihuni II, Kampung Cicayur Bubulak. Desa Curug Sangereng. Kec. Kelapa Dua. Tangerang








Suasana Ruang Kelas 4 SDN Cihuni II kondisi sekarang, ketika saya silaturahim bersama istri kesana.
Saya teringat kondisi 20 tahun sebelumnya ketika saya sekolah di SD ini.

Jadi terharu ketika saya melihat mereka karena sedikit lagi sekolah mereka akan dipindah. dan sekarang disamping sekolah itu sedang dibangun UMN (Universitas Multimedia Nusantara).

ketika saya bertanya ke salah satu murid, "Siapa yang mau sekolah di UMN disamping sekolahan kita kalau sudah besar nanti?". Mereka menjawab :"Mana mungkin Kak Udin, disana kan biayanya mahal". Insya Allah bisa, buktinya Kak Udin dan Kak Nuraini bisa sekolah tinggi.

kuncinya kemauan yang tinggi, insya Allah nanti Allah yang kasih jalan buat kita.

"Siapa yang sudah pernah nonton film Laskar Pelangi". Tanya saya pada mereka, Semuanya bengong dan menggelengkan kepala karena mereka tidak pernah nonton film seperti laskar pelangi.


Mudahan-mudahan sekolah SDN Cihuni II ini dipindah ketempat yang lebih layak. Amiiiin.


wassalam,

Bang Udin





























































Pendidikan Untuk Daerahku


Penulis : Udin Syamsudin


Sudah lama saya tidak memperhatikan keadaan kampung nan jauh di sana, letaknya memang sangat strategis sebagai penghubung kota Jakarta, ya... kampung itu bernama curug sangereng. berbatasan antara Gading Serpong, Karawaci dan Legok. Saya tinggal bersama orang tua disana, dibesarkan, dididik dan mengenyam pendidikan disana sampai saya bisa sekolah ke Perguruan Tinggi di Jakarta adalah hasil kerja keras orang tua dan keluarga di kampung itu. Namun semenjak kehadiran Pengembang Property seperti PT. Sumarecon Agung dan PT. Paramount Serpong hadir dikawasan tersebut sungguh sangat mengenaskan terutama kemiskinan, ditambah dengan keadaan birokrasi kelurahan setempat yang kongkalingkong dengan Developer tersebut membuat banyak warga curug sangereng yang banyak dirampas haknya. Kadangkala saya selalu merenung kenapa keadilan di dunia ini susah sekali untuk ditegakkan, untuk diterapkan. Hak warga diambil, terutama tempat tinggal mereka di ganti rugi tidak sebanding dengan harga yang layak.


Kenapa para konglomerat bahkan birokrasi kecil sekalipun seperti kelurahan memakan hak-hak orang miskin. Padahal itu semua titipan dari Allah swt dan saya yakin seyakin-yakinnya warga setempat akan mendapatkan bahagiaannya di akhirat kelak. amiiin...


Semenjak saya menikah dan pindah ke daerah Ciledug Tangerang, banyak sekali perubahan yang terjadi di Curug Sangereng. Memang saya sempat mengikuti dan memilih PilKades tahun kemarin yang dimenangkan oleh Ir. Nana Edi Sudardi, namun itu semuanya tidak banyak merubah keadaan warga setempat, kemiskinan dan pendidikan sangat rendah sekali padahal Gading Serpong termasuk kawasan elit di sekitarnya.


Dari pemikiran dan perenungan itulah akhirnya saya mempunyai gagasan untuk membuat suatu lembaga pendidikan terutama pendidikan untuk yatim fiatu dan fakir miskin.

Mengetuk hati pembaca sekalian lewat pendekatan Klinik Hati, apakah selama ini hati kita tidak pernah diraba dan dirasakan bahwa disekitar kita banyak kemiskinan sehingga untuk sekolah saja sudah tidak mungkin bagi anak-anak didaerah-daerah ini. Kita mayoritas umat islam dan selalu menerapkan syariat puasa tujuannya berlapar-lapar agar kita punya hati yang sensitif untuk merasakan masyarakat yang miskin. Kita berpuasa hanya untuk gengsi-gengsian, hanya syariatnya saja yang kita praktekkan tetapi nilai-nilai dari puasa tidak pernah kita wujudkan dalam kehidupan bermasyarakat.


Ingin memang rasanya saya menulis surat kepada Presiden SBY mengenai ini, tetapi layak tidak orang seperti saya menulis kepada Presiden. Karena Presiden begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan terutama program-program beliau yang harus dilanjutkan.

Saya sangat mendukung langkah SBY membentuk KPK, beliau ingin mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, tetapi sekali lagi. bangsa ini sudah begitu rusaknya terutama mental birokrasinya. Mungkin sudah tepat langkah beliau tetapi siapa yang mengawasi kinerja birokrasi kelurahan kecil seperti Curug Sangereng yang dari dulu tidak pernah maju. Ironisnya yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin didaerahku.


Dulu memang pernah ada warga yang mau menghibahkan tanahnya untuk dipakai sebagai Lembaga Pendidikan tetapi apa boleh buat tanah wakaf sekalipun di gusur oleh Pengembang seperti PT. Sumarecon Agung dan PT. Paramount Serpong, dan mereka menggantinya dengan UMN (Universitas Multimedia Nusantara) di kawasan Gading serpong, untuk warga sekitar seperti kami, mana mungkin bisa sekolah dan duduk di bangku Kuliah Universitas Multimedia Nusantara.


Memang banyak dikawasan serpong pendidikan yang dari Jakarta hijrah kesini seperti Universitas Bina Nusantara, rencananya akan hadir Universitas Multimedia Nusantara dan Universitas Tarumanegara, tetapi apakah semua itu akan menjamin bahwa pendidikan akan menjadi setiap hak warga negara, saya yakin jawabannya tidak. Karena sekali lagi pendidikan seperti itu akan hanya dinikmati oleh mereka-mereka yang mampu secara finansial.

bagi warga seperti Dede Hermansyah, Imam Santoso dan anak-anak yatim yang lainnya akan mengalami putus sekolah bahkan mereka tidak sekolah sama sekali.


Dimana hati nurani kita?...kita begitu sibuk dengan gaya bermewah-mewahan, bukan berarti tidak boleh kaya tetapi apakah kita rela melihat anak bangsa yang nantinya sebagai generasi penerus ini tidak tahu apa-apa.


Apakah anda tidak percaya dengan tulisan ini bahwa kemiskinan sangat tinggi disekitar daerahku, saya hanya bisa mengetuk dengan hati nurani (saya bukan pengikut Partai Hanura Lo... kalau itu punya Pak Wiranto). seyogyanya kita mau merasakan penderitaan saudara kita, saya yakin anda dan saya setuju "stop komersialisasi pendidikan" jangan jadikan Lembaga pendidikan sebagai Industri Jasa yang hanya mengejar Keuntungan Materi saja, karena Pendidikan dipakai untuk merubah akhlak bangsa.


Bagaimana mental masyarakat kita baik terhadap cara pandang ia pada pendidikan kalau ia mau masuk sekolah aja harus membayar mahal, pasti setelah lulusnya yang akan dipikirkan bagaimana ia harus mengembalikan modal biaya selama pendidikan, ujung-ujungnya pasti ia akan mengejar materi dan akhirnya segala cara akan ia pakai (ini sebenarnya awal dari mental birokrasi kita sekarang). Masuk PNS harus bayar, istilah sekarang tidak ada yang gratis, semuanya serba bayar.

wassalam,

Bang Udin


Kasus Lurah Curug Sangereng
Penulis: Hanafi.N. Bauty


TANGERANG- Lurah Curug Sangereng, Kecamatan Legok Kabupaten Tangerang,Lily Firmansyah dituding ikut ‘’bermain’’ dalam kasus tanah Sumarecon di Gading Serpong, Tanerang. Pada saat PT. Sumarecon Agung usaha milik konglomerat Soetjipto Nagaria melakukan pembebasan tanah di wilayah yang dipimpinnya di Desa Curug Sangereng yang akan dijadikan kawasan Perumahan dan Centra Bisnis, Lily bukannya membela dan memperjuangkan kepentingan warganya pada saat proses pembayaran ganti rugi tanah agar sesuai dan wajar, namun malah sebaliknya mengambil keuntungan dengan cara licik yaitu diduga telah memanipulasi data dan melakukan mark-up harga. Dan akibatnya banyak warga yang harus kehilangan tanahnya atau harga tanah dibayar sangat murah oleh pengembang. Menurut salah seorang warga yang tidak mau disebutkan namanya, pada saat awal-awal dimulainya pembebasan masyarakat tidak mampu berbuat apa -apa, hanya pasrah karena pihak Gading Serpong dibantu Lurah dan aparat Desa, pada saat itu dikawal puluhan ‘’tentara bayaran’’ dengan senjata lengkap untuk mengamankan proses pembebasan tanah rakyat. Menurut informasi yang yang dihimpun, banyaknya kasus tanah di kawasan Gading Serpong yang saat ini mulai mencuat tak lepas dari peranan dan keterlibatan dari pihak Kepala Desa yang wilayahnya terkena proyek pembebasan seperti desa Kelapa Dua, Pakulonan Barat, dan Curug Sangereng. Modusnya adalah bekerjasama dengan oknum bagian pertanahan dan pembebasan Gading Serpong saat itu dengan cara me mark-up harga serta memanipulasi data-data tanah milik warga, sehingga mengakibatkan banyak tanah warga yang hilang. Seperti yang dialami seorang bernama H. Idrus, juga mengaku merupakan korban permainan kotor Kepala Desa Curug Sangereng, Lily Firmanyah beserta kroni-kroninya bekerjasama dengan oknum bagian pertanahan Gading Serpong. Nasibnya memprihatinkan. Walau sebagai pemilik yang sah atas tanah tersebut namun harus menerima kenyataan pahit, tanah seluas lebih kurang 8794 M2 atas namanya yang terletak di Desa Curug Sangereng telah jadi milik orang lain alias dikuasai pihak Gading Serpong. Padahal menurut Idrus, tanah Persil No.380 warisan orang tuanya yang dibeli sejak tahun 1926 tidak pernah dijual atau dikuasakan kepada orang lain untuk menjual kepada siapapun dan pihak lain.Maka ketika ada 2 orang bernama Hasan dan Jefri mengaku tanah itu milik mereka, Idrus langsung mengajukan pembatalan Pajak Bumi dan Bangunan kepada Kepala Kantor Pajak dan dikabulkan dengan nomor pembatalan NO. KEP 145/WPJ/.07 / KB.0704/1995 yang ditanda tangani H.Komar Koswara. Namun yang sangat menyedihkan adalah ketika Idrus ingin mengurus haknya atas tanah tersebut sang Lurah tidak mau membantu sedikitpun bahkan menolak tanpa alasan yang jelas. “Padahal kami hanya ingin minta tolong dibuatkan surat keterangan tidak sengketa saja , kok lurah tidak mau sih, ada apa, kami nggak ngerti, “ujar salah seorang kerabat Idrus yang dikuasakan mengurus surat tanah miliknya dengan perasaan heran dan penuh curiga. Akibat sikap Lily Firmansyah yang tidak mencerminkan seorang Lurah yang wajib melayani masyarakatnya. pihak Idrus pun semakin curiga dan yakin adanya kongkalingkong lurah yang telah menjabat tiga tahun itu dengan pihak Gading Serpong. “Kalau tidak ada salah kenapa harus takut membuat surat pernyataan tidak sengketa,“ tegas salah seorang keluarga Idrus. Menurutnya, apabila sang Lurah masih tetap ngotot dan tidak mau membantu dan bersikap masa bodoh maka pihak Idrus berencana dalam waktu dekat akan melaporkan tindakan Lurah tersebut ke pihak berwajib. Menanggapi sikap Lurah Lili Firmansyah yang dinilai arogan dan tidak mampu memberikan pelayanan kepada masyarakatnya beberapa kalangan LSM pun angkat bicara.“Kami sangat menyayangkan prilaku dari Lurah tersebut dan minta Bupati agar segera menindak serta memberikan sanksi berat kepada sang Lurah. Juga Lurah-Lurah lainnya apabila tidak mau membuatkan surat keterangan apapun jenisnya, bagi masyarakat yang membutuhkannya,“ ujar Yoes Tanjung, Sekjen LSM Fathahilah Tangerang. Sementara itu, Lurah Lily akan diminta tanggapannya seputar tuduhan yang ditujukan terhadap dirinya tidak berhasil ditemui, baik di kantor maupun di rumah. Dihubungi lewat telepon selularnya pun tidak tersambung alias mailbox.Penulis: Hanafi.N. BautyTANGERANG- Lurah Curug Sangereng, Kecamatan Legok Kabupaten Tangerang,Lily Firmansyah dituding ikut ‘’bermain’’ dalam kasus tanah Sumarecon di Gading Serpong, Tanerang. Pada saat PT. Sumarecon Agung usaha milik konglomerat Soetjipto Nagaria melakukan pembebasan tanah di wilayah yang dipimpinnya di Desa Curug Sangereng yang akan dijadikan kawasan Perumahan dan Centra Bisnis, Lily bukannya membela dan memperjuangkan kepentingan warganya pada saat proses pembayaran ganti rugi tanah agar sesuai dan wajar, namun malah sebaliknya mengambil keuntungan dengan cara licik yaitu diduga telah memanipulasi data dan melakukan mark-up harga. Dan akibatnya banyak warga yang harus kehilangan tanahnya atau harga tanah dibayar sangat murah oleh pengembang. Menurut salah seorang warga yang tidak mau disebutkan namanya, pada saat awal-awal dimulainya pembebasan masyarakat tidak mampu berbuat apa -apa, hanya pasrah karena pihak Gading Serpong dibantu Lurah dan aparat Desa, pada saat itu dikawal puluhan ‘’tentara bayaran’’ dengan senjata lengkap untuk mengamankan proses pembebasan tanah rakyat. Menurut informasi yang yang dihimpun, banyaknya kasus tanah di kawasan Gading Serpong yang saat ini mulai mencuat tak lepas dari peranan dan keterlibatan dari pihak Kepala Desa yang wilayahnya terkena proyek pembebasan seperti desa Kelapa Dua, Pakulonan Barat, dan Curug Sangereng. Modusnya adalah bekerjasama dengan oknum bagian pertanahan dan pembebasan Gading Serpong saat itu dengan cara me mark-up harga serta memanipulasi data-data tanah milik warga, sehingga mengakibatkan banyak tanah warga yang hilang. Seperti yang dialami seorang bernama H. Idrus, juga mengaku merupakan korban permainan kotor Kepala Desa Curug Sangereng, Lily Firmanyah beserta kroni-kroninya bekerjasama dengan oknum bagian pertanahan Gading Serpong. Nasibnya memprihatinkan. Walau sebagai pemilik yang sah atas tanah tersebut namun harus menerima kenyataan pahit, tanah seluas lebih kurang 8794 M2 atas namanya yang terletak di Desa Curug Sangereng telah jadi milik orang lain alias dikuasai pihak Gading Serpong. Padahal menurut Idrus, tanah Persil No.380 warisan orang tuanya yang dibeli sejak tahun 1926 tidak pernah dijual atau dikuasakan kepada orang lain untuk menjual kepada siapapun dan pihak lain.Maka ketika ada 2 orang bernama Hasan dan Jefri mengaku tanah itu milik mereka, Idrus langsung mengajukan pembatalan Pajak Bumi dan Bangunan kepada Kepala Kantor Pajak dan dikabulkan dengan nomor pembatalan NO. KEP 145/WPJ/.07 / KB.0704/1995 yang ditanda tangani H.Komar Koswara. Namun yang sangat menyedihkan adalah ketika Idrus ingin mengurus haknya atas tanah tersebut sang Lurah tidak mau membantu sedikitpun bahkan menolak tanpa alasan yang jelas. “Padahal kami hanya ingin minta tolong dibuatkan surat keterangan tidak sengketa saja , kok lurah tidak mau sih, ada apa, kami nggak ngerti, “ujar salah seorang kerabat Idrus yang dikuasakan mengurus surat tanah miliknya dengan perasaan heran dan penuh curiga. Akibat sikap Lily Firmansyah yang tidak mencerminkan seorang Lurah yang wajib melayani masyarakatnya. pihak Idrus pun semakin curiga dan yakin adanya kongkalingkong lurah yang telah menjabat tiga tahun itu dengan pihak Gading Serpong. “Kalau tidak ada salah kenapa harus takut membuat surat pernyataan tidak sengketa,“ tegas salah seorang keluarga Idrus. Menurutnya, apabila sang Lurah masih tetap ngotot dan tidak mau membantu dan bersikap masa bodoh maka pihak Idrus berencana dalam waktu dekat akan melaporkan tindakan Lurah tersebut ke pihak berwajib. Menanggapi sikap Lurah Lili Firmansyah yang dinilai arogan dan tidak mampu memberikan pelayanan kepada masyarakatnya beberapa kalangan LSM pun angkat bicara.“Kami sangat menyayangkan prilaku dari Lurah tersebut dan minta Bupati agar segera menindak serta memberikan sanksi berat kepada sang Lurah. Juga Lurah-Lurah lainnya apabila tidak mau membuatkan surat keterangan apapun jenisnya, bagi masyarakat yang membutuhkannya,“ ujar Yoes Tanjung, Sekjen LSM Fathahilah Tangerang. Sementara itu, Lurah Lily akan diminta tanggapannya seputar tuduhan yang ditujukan terhadap dirinya tidak berhasil ditemui, baik di kantor maupun di rumah. Dihubungi lewat telepon selularnya pun tidak tersambung alias mailbox.

sumber :
http://my.opera.com/wartajakarta/blog/show.dml/324342

Jumat, 03 April 2009


Nilai Segelas Air

Cerita di Zaman Khalifa Harun Al-Rasyid

Saat itu berkuasa Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad, Irak. Ada seorang ulama faqih dan sholeh yang sangat terkenal pada masa itu, bernama Ali Syaqiq bin Al Azdi. Ketika beliau sedang menunaikan ibadah haji dan singgah di Irak, Khalifah Harun Al-Rasyid memerintahkan pengawalnya untuk mengundang Syaqiq datang ke istananya.

Setibanya Syaqiq di istana, Khalifah Harun Al-Rasyid yang memiliki sifat tawadhu, meminta nasihat kepada beliau. Pada saat itu datang seorang pelayan membawa nampan berisi segelas air. Kemudian Syaqiq mengambil gelas itu dan bertanya kepada Khalifah, jika seandainya Khalifah berada di gurun yang sangat tandus dan sangat memerlukan seteguk air minum, berapa khalifah akan membayar untuk segelas air ini? Khalifah kemudian menjawab akan membayarnya dengan separuh kekayaan kerajaannya. Syaqiq lalu meminum segelas air tersebut.

Syaqiq kemudian bertanya kembali kepada Khalifah, jika seandainya air yang tadi diminum tidak dapat dikeluarkan dari tubuh Khalifah, berapa harga yang akan dikeluarkan Khalifah untuk dapat menyembuhkannya, supaya air tersebut dapat dikeluarkan dari tubuhnya? Khalifah kembali menjawab akan membayarnya dengan separuh kekayaan kerajaannya.

Syaqiq kemudian menjelaskan bahwa harga sebuah kerajaan ternyata sama dengan harga segelas air. Dimana makna yang terkandung didalamnya adalah jangan merasa bangga dan sombong dengan segala kekayaan yang kita miliki. Dan juga jangan saling memperebutkannya dengan menghalalkan segala cara. Karena kekayaan materi di dunia sifatnya hanya sementara saja.

Kisah diatas melukiskan betapa tidak berartinya harga kekayaan materi yang dimiliki manusia di dunia ini. Kita justru sebaiknya memperkaya diri kita tidak hanya dari segi materi saja, namun apa yang ada disekitar kita dapat dijadikan sumber kekayaan yang hakiki, seperti kita memiliki keluarga yang sholeh dan sebagainya. Sehingga apa-apa yang kita lakukan insya Allah akan mendapat berkah dari Allah SWT.